Dakwah Aswaja ala Mahasiswa

Dakwah Aswaja ala Mahasiswa

  • Post author:
  • Post category:Artikel

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan pewaris tahta penyebaran ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah yang bergerak di tataran perguruan tinggi atau kampus. Peran besar ini bertanggung jawab dalam memproyeksikan narasi besar memperjuankan Izzul Islam Wal Muslimin. Sebagaimana PMII diejawantahkan sebagai lokomotif pemberdaya dan pelestari nilai-nilai islam yang tersublimasi dalam kerangka Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (ASWAJA).

Bahkan dimanapun tempat kuliahnya, baik kampus umum (seculer) maupun agama (religi) yang berbasis atribut agama seperti (UIN/IAIN/STAI/Pesantren) amanah PMII dalam melestrikan sesuatu yang terangkai dalam bingkai;

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik

Haruslah massif digerakkan, Unsur utama sikap yang mencirikan karakter Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah mempraktikkan spirit “4T” yaitu, at Tasamuh, At Ta’adul, At Tawazun, at Tawassut dalam hubungannya bermasyarakat di dunia kampus.

Secara sistemik, PMII dihembuskan pasca proses ideologisasi untuk mengorganisir aspek wacana maupun praksis konsepsi Ahlussunnah Wal Jama’ah ke wilayah diskursif dan amaliyah dengan varian yang melihat antropologi kampus yang ada. Ini menjadi sangat penting, manakala perguruan tinggi yang dijadikan bidikan strategis adalah kampus umum. Dikatakan penting, karena ibarat hutan yang penuh semak belukar dan karakter hewan yang buas, maka PMII haruslah membabat hutan tersebut kemudian didesain oleh bangunan yang bernafaskan islam yang Rahmatan Lil A’Lamin.

Belum lagi akhir-akhir ini, di sebagian kampus umum menjadi bidikan munculnya gerakan-gerakan islam radikal untuk menebakan bibit ajaran yang menghendaki cara beragama yang kaku, oleh mereka sengaja di Fashion-kan menjadi Islam yang berwajah buram, kasar, dan penuh amarah, bahkan teroris yang jauh dari visi dan misi ajaran Islam itu sendiri.

Di sinilah peranan PMII sebagai organisasi kaderisasi dan toggak estafet bangsa berfungsi sebagai benteng gerakan-gerakan radikal yang sudah mulai menjamur di kampus-kampus umum di Indonesia. Hadirnya radikalisme berkedok agama dan intoleransi dengan garang menunjukkan keberadaannya adalah dinamika mempertahankan paham Ahlussunnah Wal Jama’ah dan membentengi masyarakat dari radikalisme agama adalah tugas dan tanggung jawab bersama dalam menjaga keutuhan NKRI yang susah payah dibangun oleh ulama-ulama kita, khususnya untuk kader-kader PMII.

Pendudukan dan ASWAJA

Langkah perubahan tidak harus didemonstrasikan dengan langkah yang besar dan terburu-buru, dengan hal yang sederhana perubahan itu berawal, kader PMII mengawali cara yang memiliki aksi menarik, namun tidak terkesan menjemukan untuk menyebarkan dan membentengi ajaran Ahlu Sunnah Wal jamaah.

Pertama, Menguasai/menduduki organisasi intra kampus. Sejak dini sangat penting, ditanamkan jiwa kepemimpin dan metodik mengorganisir massa di PMII, sebagai bentuk fitrah bahwa setiap manusia adalah pemimpin, sehingga tidak ada hal yang mustahil dan dipertentangkan apabila mahasiswa-mahasiswa NU (PMII) kemudian menjajaki organisasi intra kampus seperti Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Sebab, dengan pendudukan kekuasaan, dengan mudah autority untuk membidik kegiatan bernafaskan ASWAJA dapat semarak. Sedangkan, Sikap apatis terhadap proses pergolakan kampus akan semakin memberikan kesempatan pihak-pihak lain untuk menempati posisi-posisi strategis yang ada di kampus.

Kedua, membentuk Group Discussion Aswaja di kampus. Ini sangat penting sekali, apalagi jika diterapkan di kampus-kampus umum dengan mengundang tokoh-tokoh yang kompeten tentang pemikiran Islam (Aswaja) guna membentengi dan menggaet mahasiswa dan akademisi kampus dengan doktrin Islam Aswaja. Maka dengan begitu, akan terbentuk suasana yang diskursif kajian-kajian ASWAJA.

Ketiga, menguasai Lembaga Pers Mahasiswa kampus (LPM). Sebagai wadah yang konsen di media, menjadi penting dijadikan wilayah strategis untuk bilamana ada kajian ke-Aswaja-an yang dilakukan akan di mediakan(berita). Sehingga kajian-kajian yang mewarnai kampus datang dari ajaran Aswaja sendiri, tidak lagi mengusung tulisan-tulisan yang bernada tidak moderat, bahkan terkesan memasung toleranasi yang merupakan backgaround dari radikalisme fundamentalis.

Berdasarkan tiga hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa PMII adalah basis dakwah Aswaja bagi kalangan mahasiswa. Jika ketiga hal tersebut berhasil diraih oleh kader-kader PMII, maka nilai-nilai ajaran islam Ahlussunnah Wal Jama’ah akan menghiasi wajah kampus tersebut. Bahkan sampai pada tataran tingkat kampus umum sekalipun, PMII memiliki peranata sentral untuk menggabah seluruh tatan perwajahan mahasiswa menjadi Aswaja sentris. Dan pada kesempatan itu, hal yang perlu diperhatikan adalah tetap jeli dan strategis menyesuaikan dengan tipologi dan antropologi kampus itu sendiri.

Bagikan: