Ketua STAINU Malang Gratiskan Seratus Buku Khazanah Aswaja

Ketua STAINU Malang Gratiskan Seratus Buku Khazanah Aswaja

  • Post Author:
  • Post Category:Berita

Malang, NU Online – Buku Khazanah Aswaja dibedah di STAINU Malang pada Kamis (25/01) dengan dua narasumber, Ustadz Pujiono, Ketua ST

AINU Malang, dan salah satu tim penulis buku, Yusuf Suharto.

Yang menarik, dalam bedah buku yang berlangsung dari pkl 09.00 hingga Dzuhur ini, ada pembagian 100 buku Khazanah untuk peserta.

“Kami ingin memberi oleh-oleh untuk peserta. Silahkan dibawa buku ini, dibaca dan difahami”, ujar Ustadz Pujiono.

STAINU juga memberikan dorprize bagi tiga peserta yang mampu menjawab kuis. Tiga peserta dengan cepat mampu menjawab pertanyaan keaswajaan yang dilontarkan narasumber dan mereka berhak mendapatkan voucher belanja dan uang saku.

Di samping itu juga ada penandatangan kerjasama antara STAINU Malang dengan beberapa stakeholder.

Dalam paparannya Ustadz Pujiono membahas tentang tiga pendekatan dalam memahami Aswaja, yaitu pendekatan historis, doktrinal, dan kultural.

Melihat sedemikian pentingnya Aswaja, Ustadz Pujiono menekankan bahwa materi Aswaja harus ada di lembaga-lembaga pendidikan berbasis NU.

“Dua belas ribu lembaga pendidikan di bawah LP Ma’arif se-Indonesia, limapuluh sembilan persen berada di Jatim.

Untuk kepentingan ini, alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya ini mengajak dosen-dosen hadir dalam Seminar dan Bedah Buku Khazanah Aswaja.

Sementara itu, Yusuf Suharto banyak berbicara tentang pengantar sejarah Aswaja dan pertarungan ideologi yang masih berasa hingga saat ini.

“Aswaja itu di tengah, menengahi ekstrem kanan yg radikal dalam makna negatif, dan menengahi estrem kiri, yang serba membebaskan dalam pengertian negatif.”

Sebagai contoh, ada orang yang memahami bahwa at-tabiina ghairi ulil irbati itu adalah seorang yg tidak punya hasrat pada perempuan dan karena itu bermakna homo seks. Padahal dalam pemahaman ulama, tidak berhasrat itu di antaranya karena sudah tua, jadi tidak otomatis suka dengan sesama jenis. Jadi orientasi seksual LGBT tidak dibenarkan.”

Yusuf menghimbau, agar peserta bedah buku dari perwakilan madrasah, pesantren, mahasiswa, lembaga dan banom di NU, dan masyarakat luas untuk menyerahkan pemahaman keagamaan kepada para ulama.

“Ber-Aswaja itu sudah cukup dengan NU yang menyatakan bahwa NKRI adalah upaya final komponen bangsa. Ikut para ulama,” pungkasnya di hadapan lebih dari seratus peserta yang memadati Aula STAINU Malang.

Bagikan: